See the World Deforestation Clock at http://www.cifor.org/defclock.

Selasa, 26 Juli 2011

KELAPA SAWIT: Karakteristik dan Pemanfaatannya

 Karakteristik Kelapa Sawit
Kelapa sawit (Gambar 1) memiliki akar serabut yang berfungsi sebagai penyerap unsur hara dan respirasi tanaman serta sebagai penyangga berdirinya tanaman. Kelapa sawit dewasa 8000-10000 akar primer 15-20 meter dari dasar batang dengan diameter 4-10 mm. Sebagian besar tumbuh medatar sekitar 20-60 cm di bawah permukaan tanah. Batang kelapa sawit tidak memiliki kambium tajuk dan tidak bercabang. Batang kelapa sawit berfungsi sebagai penyangga tajuk dan sebagai jalan pengangkutan air dan hara (zat makan). Pertumbuhan kelapa sawit tidak terbatas, tapi menurut pertimbangan ekonomisnya hanya sampai umur 25 tahun dengan ketinggian 10-11 m (Lubis et al. 1989). Taksonomi dari kelapa sawit secara jelas dapat dilihat pada Tabel 1.
Gambar 1  Kelapa sawit

Tabel 1  Taksonomi kelapa sawit
Taksonomi
Keterangan
Divisi
Tracheophyta
Sub-divisi
Pteropsida
Kelas
Angiospermae
Sub-kelas
Monocotyledonae
Ordo
Arecales
Famili
Arecaceae
Sub-famili
Cocoidae
Genus
Elaeis
Spesies
Elaesis guineensis Jacq.


Source:http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit
Menurut MAKSI (2007), daerah pengembangan kelapa sawit yang sesuai berada pada 150 LU – 150 LS. Faktor-faktor yang terpenting dalam pertumbuhan kelapa sawit antara lain curah hujan, suhu, udara, kelembaban udara, dan radiasi cahaya matahari. Kelapa sawit tumbuh baik pada ketinggian 0-400 m dpl, iklim dengan curah hujan 2000-2500 mm/tahun, jumlah bulan kering dalam 1 tahun yaitu 1-2 bulan, suhu udara rata-rata 22-230C, kelembaban udara 50-90% dengan kelembaban udara optimal 80%. Kelapa sawit tumbuh baik pada sebagian besar jenis tanah di wilayah tropika seperti organosol, regosol, andosol, aluvial, latosol, podsolik merah kuning, dan podsolik cokelat. Tanah yang baik untuk pertumbuhan kelapa sawit yaitu tanah yang memiliki pH netral, lapisan tanah dalam (tebal solum 80 cm), tekstur ringan, perkembangan struktur baik, dan memiliki kandungan unsur hara yang tinggi (Lubis et al. 1989). 

Hasil Produk Pengolahan Kelapa Sawit
Pengolahan kelapa sawit menghasilkan banyak produk yang dapat dimanfaatkan (Gambar 2). Buah kelapa sawit dalam pengolahannya menghasilkan dua jenis minyak yaitu minyak yang berasal dari daging buah (mesocarp) berwarna merah dikenal sebagai minyak kelapa sawit kasar atau Crude Palm Oil (CPO) dan minyak yang berasal dari inti kelapa sawit atau Palm Kernel Oil (PKO). Selain minyak, buah kelapa sawit juga menghasilkan padatan berupa sabut, cangkang (tempurung), dan tandan buah kosong kelapa sawit. Bahan padatan ini dapat dimanfaatkan untuk sumber energi, pupuk (kompos), makanan ternak, dan bahan untuk industri.
Gambar 2  Kerangka logik hulu-hilir rantai agroindustri kelapa sawit (Saefulhakim 2008).
Minyak kelapa sawit tersusun atas asam lemak tak jenuh dan asam lemak jenuh. Minyak kelapa sawit juga mengandung beta karoten atau pro-vitamin A, antioksidan, dan pro-vitamin E (tokoferol dan tokotrienol) yang sangat diperlukan dalam proses metabolisme dan untuk kesehatan tubuh manusia.
Produk kelapa sawit dapat dikelompokkan menjadi jenis bahan makanan (oleofood), bahan non makanan (oleochemical), serta bahan kosmetika dan farmasi. Minyak kelapa sawit dan inti kelapa sawit yang digunakan sebagai bahan pangan diperoleh melalui proses fraksinasi, rafinasi, dan hidrogenisasi. Umumnya CPO sebagian besar difraksinasi sehingga menghasilkan fraksi olein (cair) dan fraksi sterain (padat). Fraksi olein digunakan untuk bahan pangan, sedangkan fraksi sterain untuk keperluan non pangan. Bahan pangan dengan bahan baku olein antara lain minyak goreng, mentega (margarine), lemak untuk masak (shortening) bahan pengisi (adatif), industri makanan ringan, dan sebagainya.
Minyak kelapa sawit sebagai bahan bukan pangan dapat dipakai untuk bahan industri berat maupun ringan. Pada industri berat antara lain untuk industri penyamakan kulit agar menjadi lembut dan fleksibel, industri tekstil sebagai minyak pelumas yang tahan terhadap tekanan dan suhu tinggi, industri perak sebagai bahan flotasi pada pemisahan bijih tembaga dan cobalt. Sedangkan pada industri ringan yaitu bahan baku sabun, deterjen, semir sepatu, lilin, tinta cetak, dan sebagainya.
Dalam industri farmasi dan kosmetik, minyak kelapa sawit dipakai untuk pembuatan shampo, krim, minyak rambut, sabun cair, lipstik, dan sebagainya. Penggunaan tersebut disebabkan sifat minyak kelapa sawit yang mudah diabsorbsi kulit.
Menurut Dirjen Bina Produksi Perkebunan (2004), produk turunan minyak kelapa sawit antara lain:
1.      Produk turunan CPO selain minyak goreng dapat dihasilkan margarin, shortening, vanaspati (vegetable ghee), ice creams, bakery fats, mie instant, sabun dan deterjen, cocoa butter extender, chocolate dan coating, specialty fats, dry soap mixes, sugar confectionary, textiles oils, dan biodiesel.
2.      Produk turunan PKO yaitu shortening, cocoa butter substitute,  specialty fats, ice cream, coffee whitener/cream, sabun dan deterjen, sampo dan kosmetik.
3.      Produk turunan oleochemicals kelapa sawit yaitu methyl ester, plastic textile processing, metal processing, lubricants, emulsifers, detergent, glicerene, cosmetic, explosives, pharmaceutical product, dan food protective coatings.

Pengembangan Produksi Kelapa Sawit dalam Perkebunan
Dengan berbagai manfaat produk yang dihasilkan oleh produksi kelapa sawit, maka banyak pengusaha dalam dan luar negeri mengembangkan perkebunan kelapa sawit. Luas lahan perkebunan kelapa sawit yang terdapat di Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2
Tabel 2  Luas lahan perkebunan kelapa sawit di Indonesia
No
Nama Daerah
Luas Lahan (Ha)
1
Bangka-Belitung
133.284
2
Banten
14.893
3
Bengkulu
165.221
4
Irianjaya Barat
31.734
5
Jambi
448.899
6
Jawa Barat
9.831
7
Kalimantan Barat
492.112
8
Kalimantan Selatan
243.451
9
Kalimantan Tengah
571.874
10
Kalimantan Timur
237.765
11
Kepulauan Riau
6.933
12
Lampung
157.229
13
Nanggroe Aceh Darussalam
308.560
14
Papua
29.736
15
Riau
1.547.940
16
Sulawesi Barat
75.154
17
Sulawesi Selatan
24.490
18
Sulawesi Tengah
48.431
19
Sulawesi Tenggara
2.966
20
Sumatera Barat
315.618
21
Sumatera Selatan
630.440
22
Sumatera Utara
979.541

Total
6.476.102
Sumber: MAKSI (2007)
 
Kelapa Sawit sebagai Komoditi Strategis Nasional
Kelapa sawit merupakan salah satu komoditi dari pertanian yang menghasilkan banyak manfaat karena minyak yang dihasilkan menghasilkan produk turunan yang potensial dikembangkan dalam bidang perindustrian. Kelapa sawit merupakan komoditi strategis nasional karena pengembangannya akan berpengaruh langsung terhadap perekenomian negara dan penyerapan sumberdaya manusia Indonesia. Dengan banyaknya industri pengolahan produksi turunan maka penyerapan akan tenaga kerja semakin meningkat sehingga perekonomian masyarakat meningkat dan mengatasi masalah ekonomi di Indonesia yang terus berkepanjangan. Manfaat lain dari pengembangan kelapa sawit bagi kepentingan nasional antara lain manfaatnya yang dapat mengatasi masalah semakin minimnya minyak bumi sebagai bahan baku pembuatan bahan bakar kendaraan maupun mesin industri. Pengembangan komoditi kelapa sawit, jika dikuatkan keterkaitan dengan sektor industri yang ada di seluruh Indonesia, akan menguatkan perekonomian Indonesia secara merata.

0 komentar:

Poskan Komentar

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites